Creative Business Model

Wah sudah lama juga ya pak tidak nge-blog.. Mungkin dikarenakan saya adalah orang yang selalu mengerjakana tugas blog secara serentak, alias dead liners pak.. hehe.. tapi tidak mengapa, karena yang penting saya melaksanakan tugas saya sebagai mahasiswa didikan Bapak Agus a.k.a. Bapak Apiq!

 

Kali ini saya akan membahas mengenai Creative Business Model. Business model adalah sebuah penjelasan mengenai bagaimana kinerja sebuah perusahaan atau sebuah institusi tercipta dari proses awal hingga nilai yang terbentuk dari hasil proses tersebut. Pada masa modern ini, penerapan dan bentuk business model sangat bervariasi tergantung dari kebutuhan dan tujuan perusahaan tersebut. Proses yang dilalui oleh sebuah perusahaan untuk mencapai nilai yang diinginkan harus melalui beberapa aktifitas yang juga turut serta membangun performa secara financial perusahaan tersebut.

Elemen-elemen yang standar digunakan dalam suatu desain business model adalah:

  • Core Capabilities
  • Customer Relation
  • Target Customer Segment
  • Distribution Channels
  • Partner Network
  • Cost Structure
  • Revenue Model
  • Value Proposition
  • Value Configuration

Untuk lebih jelasnya, saya akan menjelaskan elemen-elemen tersebut mencontoh kepada perusahaan McDonald’s.

 

 

But wait!! Bukannya tugas ini seharusnya mengulas tentang perusahaan social network ya? Eiiiits.. Tunggu dulu bung.. McDonald’s termasuk restoran terbesar di dunia yang telah menjadi tempat networking bagi sosial.. Di seluruh penjuru dunia.. Ha? Bagaimana mungkin?

Ya tentu mungkin! McDonald’s menyajikan tempat menyantap makanan yang saking cozy-nya, konsumen pun kembali terkadang hanya untuk bersantai.. Dan lama-lama menjadi sebuah tempat bersosialisasi dengan santai antar individu.. Tidak mengungkiri pengertian social network bukan? Nice..

Dengan target customer segment yang menginginkan kepraktisan dan instan dalam menyantap makanan besar, maka McDonald’s melakukan value configuration dengan cara memproduksi makanan dan minuman siap saji yang dapat dibawa dan dimakan dalam perjalanan. Hal ini tentu didukung dengan distribution channel mereka yang luas sehingga terjangkau oleh para konsumen sehingga membangun value proposition yang diinginkan oleh McDonald’s, yaitu restoran siap saji yang dapat dijangkau dengan mudah oleh masyarakat dunia. Dengan core capabilities McDonald’s yang mampu memproduksi makanan siap saji dan mampu menjangkau seluruh dunia, maka banyak investor-investor yang tertarik untuk membeli franchise mereka dan resmi menjadi partner network bagi McDonald’s. Lebih hebatnya lagi, untuk meningkatkan customer relationship mereka dengan pelanggan-pelanggannya, McDonald’s menciptakan sistem delivery service 24 jam dan membuka McCafe untuk pengunjung yang ingin menikmati santapan roti-roti camilan disertai dengan kopi siap saji ala McDonald’s. Tentu saja semua ini menambahkan beban pada cost structure McDonald’s dikarenakan untuk pengoperasian dan pembangunan membutuhkan biaya, terutama yang sangat besar karena McDonald’s sudah berskala internasional. Namun dengan kentalnya value proposition mereka di mata masyarakat dunia, maka semua jerih payah pun terbayar dan menjadi nilai plus untuk revenue model McDonalds; terlebih lagi dengan sistem franchise-nya di seluruh dunia.

 

AAAAWRIGGGHT! Done!

 

 

Advertisements

About umaravianto

yea yea
This entry was posted in Kroni Pak Apiq. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s